
Setarik napas kita pun memburu waktu. Mengerang di selarik kegelisahan untuk segera bertemu.
Sapa pagi melipat kata enggan. Dan, tetap ingin kukalimatkan rindu. Dari jauh kusisipkan di dadamu, di bibirmu.
Percayalah! #DearYou - My new sounds:

Dear you,
Saat pelukmu terlepas…
Saat bertemu, sebenarnya rindu baru saja beranjak dari langkah pertama. Masih jauh perjalanan yang harus ditempuh.
Sejenak pelukmu terlepas, selarut ini aku menghitung rindu yang terempas di ruang kegelisahanku.
Ketika ruang batin disesaki kosong tanpamu, aku menyebutnya rindu, lain tidak.
Rindu yang kujaga untukmu adalah sesepi-sepinya rasa yang menyekat keterpisahan. Terasing jauh dari mata, dan sentuhanmu.
Selamat datang, rindu. Aku meradang; menunggumu. Entah sampai kapan menunggu, akan kutunggu.

Kepada #M
Dengan kalimat apa aku menuliskan arti hadirmu? Sebagai debar yang tiba-tiba gemetar untuk mengharapmu atau rindu yang diam-diam menggebu?
Sudah lama aku membiarkan rasaku diam terjaga dalam kesenyapannya; sampai perjumpaan kedua menggelitik getar itu lagi, telak. Maaf, jika itu terjadi begitu saja.
Apakah aku terlambat; bahkan sebelum sempat kubaca hati [mu] ? Sungguh, aku tak menginginkan itu, karena esok dan seterusnya aku akan menunggu kerlingan manja, dan senyuman malu-malu yang kau titipkan pada arakan senja, seperti kemarin.
“Kemarilah! Aku pinjamkan air mataku sebagai hadiah abadi untuk kebohonganmu. Pergilah!” #Goodbye

Dear you,
Sejak napas cinta kau tiupkan, dan menghunjam jantung, itulah awal bahagiaku. Tertulis di wajah pagi, dan kening senja.
Dan,
Di setiap pagi, tulisan kebahagiaan itu menyusup embun tanpamu; hanya aku, ternyata.
Datang dan pergi, begitulah masa lalu membiru-hitamkan tiap lembaran cerita. Dan, kamu tetap berada diantaranya, seperti pagi ini.
Dan,
Di tempat rebahku kini, kamu berpelangi. Selamat pagi, untukmu —-entah untuk yang ke berapa kali. Yang pasti, aku ingin kembali lagi kepadamu, suatu hari nanti.
(Moammar Emka dalam Dear You, halaman 379)

Di lentik jemarimu, rengkuh genggamanku memudar, dan kini rindu menularkan sakit kesepian. Dan, tujuanku tak kemana. Di pinggir bibirmu, kuingin menepi. Berteduh dari rindu yang mengaduh.
Sesering kita mengingkari hati, sedalam tak terukur kita membodohi diri sendiri. Sedalam inginku berlari mengingkari, secepat getarku kembali bertekuk lutut di hatimu, satu-satunya.
Sedetik tak lupa, sekujur tubuhmu adalah segenap ingatan yang mencetak satu rindu, sebenarnya.
(DEAR YOU, halaman 328-329)

Dear you,
Untuk apa jauh-jauh lagi mencari, sementara dalam dirimu saja aku sudah menemukan alasan hidup: bahagia bersamamu.
****
Buku ini dipersembahkan untuk cinta, demi cinta, dan kepada cinta.
Ingat-ingatlah semua pagi yang kau syukuri karena masih bisa terbangun di sisinya, semua siang yang kau habiskan dengan merindukannya, juga malam-malam yang kau tutup dengan doa memohon kebahagiaannya.
Temukan cerita tentang cintamu di buku ini, dan bersiaplah jatuh cinta lagi.

Karena hanya di hatimu aku berhenti mencintai. Pada segalamu, cinta tak kutakar lagi.
Dan,
Telah kubaca dari segala gerak hatimu. Kuberkaca tak jera; agar menjadi kita, suatu ketika.
Dan,
Aku mencintaimu di luar pemahaman. Selesai!
Dan, aku bahagia. Cukup!
(Halaman persembahan buku DEAR YOU - Moammar Emka)
“I love you.” Aku tak ingin ungkapan itu menjadi kamus mati. Aku ingin mengejawantahkannya menjadi berarti, dan berhati. Akan kucari masa lalu, membawanya ke pangkuanmu. Biarkan bibir dan hati kita tak pernah bosan saling berkata: “I love you” sekali lagi. 